Processing...

MENDISIPLIN ANAK BERDASARKAN KASIH


Diposting oleh | Fri, 17 Apr 2020 05:36:02


Tidak ada cara yang lebih tepat untuk menanamkan dan membentuk nilai-nilai dan karakter anak, selain dengan melakukan pendisiplinan dan kasih dengan berimbang, dan melalui pengajaran dan keteladanan. Disiplin tanpa kasih justru menghasilkan anak-anak yang terluka, gambar diri tidak sehat, dan bahkan membuat anak-anak menjauh dari TUHAN. Namun kasih yang berlebihan tanpa disiplin, menghasilkan anak yang tidak tangguh, manja, kurang tekun, tidak bisa mandiri. Prof. Gregory Slayton, mantan Dubes AS yang adalah pendiri pelayanan Family First Global, menekankan pentingnya setiap orangtua melakukan “Prinsip 1:10”. Untuk setiap 1 tindakan atau kata-kata pendisiplinan, diperlukan 10 pujian yang tulus untuk memulihkannya.

Terapkan disiplin saat anak melanggar aturan yang sudah disepakati bersama, tentunya disiplin yang sesuai dengan tingkat pelanggarannya dan sesuai dengan usianya. Tapi sebaliknya bila ia berprestasi, ia melakukan sesuatu yang memang diharapkan, sesuai dengan kesepakatan, berikan pujian yang tulus.

DR James Dobson, pendiri pelayanan keluarga internasional Focus On the Family, mengemukakan bahwa tujuan disiplin bagi anak ialah agar mereka dapat belajar bagaimana cara hidup bertanggung jawab. DR Dobson mengemukakan beberapa hal berkaitan dengan cara mendisiplin anak adalah sebagai berikut:

1.Mengembangkan rasa hormat dalam diri anak terhadap guru dan orangtuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan melalui komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Dengan begitu anak belajar mengenai otoritas secara benar dan tepat.
2.Memberikan sanksi atas tingkah lakunya yang jelas-jelas memberontak atau menentang guru dan orangtua; melawan terhadap aturan yang sudah diterangkan dan ditetapkan atau disetujui sebelumnya. Hukuman fisik yang harus dikenakan bagi anak, yang sebenarnya adalah upaya terakhir setelah berbagai teguran dan peringatan tidak membawa perubahan pada perilaku anak, pada bagian "pantat" (spanking). Orangtua harus menjelaskan mengapa ia melakukannya; dan jangan dilakukan sanksi jauh setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya. Kalau anak sudah berusia 9 tahun atau lebih, tidak tepat lagi memukulnya di bagian pantat, atau mengenakan sanksi fisik pada bagian tubuh lainnya. Orangtua perlu mengembangkan bentuk disiplin yang lain, dan menghindari sanksi secara fisik.
3.Mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah berkepanjangan. Jangan menyimpan emosi benci terhadap anak manakala menghukumnya secara fisik. Sebelum melakukan hukuman fisik orangtua harus menghitung dalam hatinya angka satu hingga sepuluh guna meredakan emosinya.
4.Jangan berikan sogokan kepada anak, berupa benda atau hadiah, agar ia berlaku tertib. Hal ini dapat menumbuhkan akar materialisme.


Untuk anak-anak remaja pendisiplinan dapat dilakukan dengan :
1. Dengan dialog, berarti kita mesti sering berbicara dengan anak-anak sebelum ada pendisiplinan. Kita membuka kesempatan komunikasi yang luas dengan anak-anak sehingga mereka bisa bebas mengutarakan dirinya kepada kita. Anak-anak remaja cenderung responsig terhadap upaya untuk menjangkaunya melalui dialog, sebab mereka merasa adanya penghargaan. Komunikasi antara anak dan orang tua sangat dipengaruhi oleh adanya keterbukaan di antara mereka. Semakin orang tua nyaman membuka diri kepada anak semakin anak akan merasa dekat dengan orang tua
2. Dengan sanksi. Sanksi adalah memberikan konsekuensi atas perbuatannya ketika anak melanggar larangan kita. Contoh bentuk sanksi : tidak memberikan uang jajan selama dua hari, melarangnya bermain game kesukaannya, atau bentuk-bentuk lainnya. Untuk memberikan sanksi dengan efektif atau menjalankan metode sanksi dengan efektif kita perlu menginformasikan kepada anak kita terlebih dahulu sebelum sanksi itu diberikan.


Disiplin sangat perlu dilakukan dan disepakati oleh ayah dan ibu. Disiplin yang disepakati oleh kedua orang tua akan menjadi disiplin yang solid. Kalau orangtua tidak sepakat dalam mendisiplin, awalnya akan menimbulkan kebingungan pada anak, namun lambat laun anak bisa ‘memanfaatkan’ situasi untuk tetap mendapatkan apa yang mereka mau.
Dalam hal membuat aturan, anak boleh memberikan masukan, tetapi keputusan terakhir ada di tangan Anda – orangtuanya. Guru, pemuka / tokoh agama, bisa membantu Anda, tetapi Anda lah penanggung jawab utamanya.
Jangan pernah mendelegasikan otoritas mendisiplin ini kepada orang lain, meskipun itu orangtua Anda. Sebagai pemimpin, Anda lah yang menetapkan standar seperti yang Tuhan kehendaki, dan memastikan standar dan aturan itu berjalan dengan dasar kasih, untuk membentuk anak agar dapat hidup di salam nilai-nilai dan prinsip yang ia butuhkan untuk berhasil dalam hidupnya.

Terverifikasi :
Project ini telah melewati proses verifikasi Family First Indonesia.
Kunjungan Lokasi :
Project Creator telah mengunjungi lokasi dan memiliki orang yang dapat dihubungi di lokasi tersebut.
Kunjungan Staff :
Team Family First Indonesia telah mengunjungi lokasi project ini.
Terhubung :
Penggalangan dana ini terhubung dengan yayasan (XXXXXX)