How lucky I am to have something that makes saying goodbye so hard." — Winnie the Pooh
Adalah hal yang berat ketika harus melepas kepergian seseorang yang berarti bagi kita. Pandemi Covid 19 tengah menghancurkan perasaan banyak orang. Duka karena kehilangan orang-orang terkasih menjadi perasaan yang bergelayut di hati banyak orang. Dulu kita berfikir corona tak akan berani datang ke Indonesia, tetapi dalam hitungan minggu sejak diumumkan ada 2 orang yang positif sampai dengan penulis membuat artikel ini ada 1.700 orang yang terkonfirmasi dan ada 170 orang yang meninggal karena Corona. Semua terjadi begitu cepat dan terasa sulit untuk di bendung. Banyak orang pada akhirnya kehilangan rasa aman, dikuasai ketakutan, kehilangan kepercayaan, bahkan tidak sedikit yang harus dikorbankan, sampai pada akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa Corona memakan banyak korban.
Perasaan duka yang dialami ketika kehilangan karena corona menjadi hal yang tidak mudah untuk dijalani. Ada situasi khusus yang akhirnya membuat kehilangan terasa menjadi semakin berat. Corona seolah-olah memaksa banyak orang harus berduka tanpa diberikan kesempatan untuk “mengucapkan slamat tinggal”. Jangankan memeluk untuk memberikan salam perpisahan bahkan berdekatan dengan jenazah pun tidak diperbolehkan. Kesedihan, penyesalan, kekecewaan mungkin menjadi perasaan yang memenuhi hati. Di saat kita membutuhkan kehadiran orang-orang terdekat untuk memberikan support, namun social distancing mau tidak mau memaksa kita untuk berjauhan. Support pada akhirnya diberikan melalui pesan di media social, aplikasi chating atau mungkin telepon. Meskipun itu pilihan yang paling masuk akal, kadang di masa duka kita membutuhkan kehadiran seseorang yang bisa memberikan pelukan atau hanya sekedar tepukan di pundak. Situasi yang tidak mudah dan serba dilematis, di tambah lagi kita tidak pernah tahu kapan situasi ini akan semakin berangsur-angsur baik. Adalah hal yang wajar pada akhirnya situasinya bisa membawa seseorang yang berduka kepada tingkat stress yang lebih tinggi lagi.
Menghadapi situasi yang seperti ini pada akhirnya kita tetap harus bangkit dan berjuang supaya kita tidak terhanyut dan tenggelam di dalam kesedihan yang dalam. Butuh kemauan diri dan usaha untuk bangkit dari keterpurukan. Terkait dengan hal itu penulis rindu membagikan tips-tips sederhana yang bisa diterapkan di tengah masa duka karena kehilangan. Harapan penulis melalui artikel singkat ini kita bisa belajar menghadapi kehilangan tanpa terpuruk lebih dalam dan dengan optimisme kita menjalani hari-hari di depan dengan pengharapan dan keyakinan.
Pertama, izinkanlah diri untuk berkabung dan menangis. Tidak ada yang salah dengan berduka atau menangis. Keberdukaan kita tidak sedikitpun mengurangi kerohanian kita. Tuhan tidak pernah melarang kita untuk menangis, karena menangis diperlukan untuk melepaskan tekanan derita yang mendalam. Di tengah duka yang kita alami janganlah takut untuk menangis dan menangis lagi. Jangan menghindar dari ingatan tentang orang yang kita kasihi. Tidak perlu membuang barang-barang peninggalannya, paling tidak untuk saat ini. Ketika seseorang mengekspresikan duka dengan menangis akan menolong nya untuk makin cepat keluar dari lembah kedukaan ini. Pada dasarnya setiap orang akan melewati beberapa tahap ditengah masa berkabungnya. Tahap pertama adalah menyangkali. Penyangkalan menjadi mekanisme untuk membantu kita dalam meminimalkan rasa sakit dari situasi kehilangan. Setelah keluar dari tahap penyangkalan, emosi-emosi yang selama ini terkubur akan muncul. Tahap kedua, Marah. Adalah hal yang wajar jika orang merasa marah setelah dihadapkan pada kehilangan. kita berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan yang baru dan sedang mengalami kesedihan. Meluapkan itu semua dengan kemarahan mungkin terasa sebagai hal yang paling ‘benar’. Setelah kemarahan mereda, kita akan berpikir lebih rasional mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan merasakan emosi-emosi lain yang selama ini tersingkir oleh rasa marah. Tahap Ketiga, Menawar. Kehilangan dan putus asa merupakan dua perasaan yang kerap berdampingan dalam masa berduka. Kita begitu berduka hingga bersedia melakukan apa saja untuk meredakan rasa sakit dan kembali mendapatkan kendali. Salah satunya dengan menawar. Banyak orang juga melakukan tawar-menawar dengan Tuhan pada tahap ini agar mendapat kekuatan dari kedukaan dan rasa sakit. Tahap keempat, Depresi. Selama proses berduka, ada saatnya emosi kita mulai mereda dan kini harus benar-benar melihat kenyataan yang terjadi. Pada tahap ini, kita terpaksa menghadapi situasi sulit tersebut dan mengalami kesedihan serta kebingungan yang mendalam. Tahap kelima, Penerimaan. Penerimaan ini bukan berarti sudah benar-benar bahagia. Pada tahap ini, kita akhirnya telah menerima kenyataan yang ada. kita masih merasa sedih, namun belajar untuk hidup dengan situasi kini. Tahapan ini tidak selalu berjalan sesuai sitematis yang ada, setiap individu memiliki prosesnya bahkan untuk kasus khusus bisa jadi tahapannya lebih banyak seperti adanya kepanikan, rasa bersalah dan lain-lain. Kedukaan adalah proses yang sangat kompleks dan dinamis yang tidak pernah memiliki bentuk yang tetap dan sama, namun akhirnya menuju kepada penerimaan.
Kedua, utarakan atau ungkapkanlah kehilangan itu melalui kata-kata yang bisa kita sampaikan kepada mereka yang mengenal orang yang kita kasihi itu. Ungkapkan rasa kehilangan itu dan bagikanlah memori tentang orang yang kita kasihi itu semasa hidupnya. Dengan kita membicarakannya, secara tidak langsung kita tengah memasukkan potret-potret kenangan itu ke dalam sebuah album. Album mental yang tidak kasat mata inilah yang akan kita simpan dan bawa di dalam hati kita selamanya. Membbicarakan kebaikan dari orang yang kita kasihi juga memberikan kekuatan yang didorong oleh rasa syukur karena kita pernah memiliki kesempatan untuk bersama-sama.
Ketiga, berilah kesempatan kepada diri sendiri untuk menikmati moment sendiri, jika kita memang memerlukannya. Sisi yang lain jangan ragu untuk meminta ditemani bila kita membutuhkannya. Ada waktu di mana kita membutuhkan untuk menyendiri di tengah kesedihan. Ini bukanlah sebuah gejala yang tidak sehat. Namun kadang kala kita justru takut untuk ditinggal sendirian dan butuh ditemani. Jika itu yang dirasakan, jangan ragu untuk meminta kesediaan orang untuk menemani kita. Ini bukanlah pertanda bahwa kita tidak dapat hidup mandiri. Bukan! Ini hanyalah pertanda bahwa kita membutuhkan topangan agar kita dapat kembali menghadapi masa yang kelam ini.
Keempat, jangan tergesa-gesa membuat perubahan dan mengubah kehidupan yang telah kita jalani sebelumnya. Jangan cepat-cepat mengambil keputusan untuk menjual rumah atau memutuskan untuk pindah kota. Jangan cepat menjalin relasi baru untuk menggantikan relasi yang lama, secara khusus relasi romantis. Jangan sampai salah mengambil keputusan dan membuat kehidupan kita malah bertambah tidak karuan. Pikirkan semua dengan baik dan dalam kondisi tenang. Pada masa berkabung, sebaiknya kita tidak membuat keputusan yang besar dulu.
Kelima, isilah waktu yang biasa dihabiskan bersama orang yang kita kasihi dengan kegiatan lain. Ada sejumlah hal yang biasa kita lakukan. Kepergian orang yang kita kasihi biasanya menciptakan lubang kekosongan dan inilah yang sering kali menyulitkan bagi kita untuk melanjutkan hidup. Oleh karena itu sebaiknya kita mengisi lubang-lubang waktu dan aktivitas itu dengan hal lain.
Keenam, jalanilah rutinitas kehidupan seperti biasanya walaupun terasa berat dan tidak ingin. Biasanya kepergian orang yang kita kasihi membuat kita tidak lagi mempunyai keinginan untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lakukan, apalagi itu adalah hal-hal yang biasa kita lakukan bersama orang yang kita kasihi. Jika itu terjadi, kita mesti melawan godaan untuk berhenti melakukan kegiatan rutin itu. Sedapat mungkin kita harus tetap melakukannya kendati kita tidak menginginkan atau menikmatinya lagi. Jika kita berhenti, besar kemungkinan kita akan mengalami kesulitan memulainya lagi.
Ketujuh, Jangan menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mencari jawaban, mengapa saya yang mengalami kehilangan. Sudah tentu kita tahu dan percaya bahwa Tuhan telah berkehendak dan bahwa Ia mempunyai rencana yang tidak kita pahami. Adalah hal yang wajar jika ada rasa keingintahuan yang begitu besar untuk mengetahui mengapakah musibah ini terjadi. Kita beranggapan, jika saja kita mengetahuinya, maka kita akan dapat menerima kenyataan ini dan melanjutkan hidup. Saya tahu ada orang yang mendapatkan jawaban yang memuaskan dan ini menolong mereka untuk menerima kenyataan pahit ini. Namun, sering kali jawaban itu tidak ditemukan. Suatu hari nanti mungkin jawaan itu datang kepada kita dan saat itu tiba kita baru mengerti rencana Tuhan yang lebih dalam dan besar.
Langkah-langkah praktis ini mungkin bisa kita lakukan meskipun kita menyadari bahwa memang setiap orang memiliki proses yang berbeda di dalam menjalani kedukaan dan menghadapi kehilangan. Tetapi paling tidak satu penghiburan yang pasti adalah Tuhan tidak akan pernah memberikan ujian yang tidak sanggup untuk kita tanggung. Ada kekuatan yang disediakan bagi setiap kita yang berduka dan seperti ungkapan yang ditulis dibagian awal dari artikel ini, sebenarnya kita adalah orang yang begitu beruntung karena “pernah” memiliki seseorang yang begitu berharga sehingga tidak mudah bagi kita untuk mengucapkan selamat tinggal.
Be strong...
Endi Dharmawan
Direktur Family First Indonesia Academy