Beranda
Artikel

Rukun dengan Mertua.... Mungkinkah?

May 29, 2017

Dua perempuan setengah baya membawa seorang wanita muda ke hadapan Raja. Keduanya mengaku bahwa wanita itu adalah menantunya.  Raja hening sejenak sebelum berkata, “Ambilkan pedangku dan aku akan membelah wanita itu menjadi dua. Kalian masing-masing akan memperoleh setengah darinya.”

“Ya benar, belahlah wanita ini,” kata salah seorang dari perempuan itu.

“Ampun Baginda.... Saya mohon Baginda tidak melakukannya. Saya rela menyerahkan wanita ini kepada ibu itu, ” kata perempuan yang satu lagi.

Raja berkata, “Kalau begitu berikan wanita muda itu pada ibu yang pertama.”

“Tetapi baginda, bukankah wanita itu yang meminta agar wanita itu dibelah saja?” tanya penasihat raja.

“Justru karena itu saya tahu, dialah mertuanya,” kata Raja sambil tersenyum lebar.

Cerita di atas, yang tentu saja merupakan humor, menunjukkan bahwa antara menantu dan mertua sering terjadi hubungan yang tidak harmonis. Saya pernah mendengar humor di seputar penciptaan Adam dan Hawa.
Hawa, menurut humor tersebut, dianggap sebagai wanita yg paling berbahagia di dunia ini. Mengapa? Karena Hawa tidak mempunyai mertua... !

Bagaimana hubungan Anda dengan mertua saat ini? Silakan mengisi kuesioner berikut ini untuk mengukur/ menilainya, lingkari angka yang menunjukkan keadaan Anda. Lalu jumlahkan, dan silakan melihat nilai/skor di bawah kuesioner ini untuk mengartikan nilai/skor Anda.

 

Salah             Kadang-kadang           Benar

1. Kami menunjukkan hormat dan respek terhadap orangtua kami, walau bagaimanapun sikap dan tindakan mereka kepada kami

1          2         3         4           5           6        7

2. Kami belajar meminta nasehat bijaksana dari orangtua kami, tetapi bebas untuk menentukan keputusan kami sendiri.

1          2         3         4           5           6        7

3. Kami tidak akan dengan sengaja membuat orangtua atau mertua kami sedih/prihatin karena kesalahan pasangan kami. 

1          2         3         4           5           6        7

4. Kami bebas dari kontrol dan wewenang orangtua kami. Kami tidak harus mengikuti/mentaati setiap keinginan mereka.

1          2         3         4           5           6        7

5. Kami benar-benar bisa memilih dan menentukan kegiatan mana yang akan kami lakukan dengan (atau tanpa) mertua.

1          2         3         4           5           6        7

6. Kami berdua memahami dan menerima sifat orangtua kami, dan mengampuni mereka atas apapun kesalahan yang mereka lakukan terhadap kami.

1          2         3         4           5           6        7

7. Kami dipersatukan, tidak saling menentang/ bermusuhan dengan orangtua kami.

1          2         3         4           5           6        7

8. Kami menikmati hubungan yang sehat dan dewasa dengan orangtua kami.

1          2         3         4           5           6        7

Nilai:
48-56     ”Saya mengasihi mertua saya!”
38-47     ”Saya sangat mengenal mertua saya!”
28-37     ” Mertua? Kalau mereka hanya kunjungan singkat sih oke saja....”
18-27     ”Rukun dengan mertua....? Anda tidak mengenal mertua saya....!”
8-17     ”Tolong jangan paksa saya rukun dengan mertua saya....Jauhkan dia dari hidup saya....!”

Berbagai Sumber Konflik dengan Mertua
Sebagaimana halnya konflik pasangan suami istri, konflik dengan mertua adalah hal yang biasa terjadi dalam banyak keluarga. Ini beberapa sumber konflik yang terjadi dengan mertua:

  • Kesenjangan usia antara suami dan istri dan orangtua. Beda usia yang cukup jauh, sedikit banyak mempengaruhi pola komunikasi, juga bahan/isi komunikasi dengan orang tua.
  • Kesulitan dalam penyesuaian diri. Pasangan usia muda yang belum pernah berpisah dengan orangtua sebelum menikah, biasanya mengalami masalah penyesuaian diri. Selain saling menyesuaikan, pada saat yang bersamaan mereka dituntut untuk belajar menyesuaikan diri dengan orang lain dalam ikatan pernikahan.
  • Orangtua yang menuntut perhatian lebih dari anak-anak mereka. Orangtua yang penghasilannya menurun, merasa kurang diperhatikan, menderita penyakit kronis, usianya sudah sangat tua, atau orang tua yang kesepian karena bercerai atau pasangannya sudah meninggal. Kondisi-kondisi ini bisa membuat pasangan merasa ‘terabaikan’ karena pasangannya lebih memperhatikan orang tuanya.
  • Urutan kelahiran anak yang mempengaruhi ekspektasi/pengharapan orang tua. Anak sulung yang menikah dengan anak bungsu, misalnya. Orangtua anak bungsu mungkin merasa agak berat melepas anak terakhirnya, dan cenderung akan terus memantau dan cenderung mudah ikut campur bila terjadi sesuatu. Dan orangtua anak sulung mungkin menaruh harapan yang cukup tinggi pada menantunya untuk bisa ‘mengimbangi’ anaknya.
  • Orangtua (dan juga pasangan) menaruh harapan yang kurang realistis mengenai hubungan di antara mereka. Para orangtua mungkin membayangkan hubungan yang dekat dan terus menerus dengan menantu mereka yang baru. Mereka berharap dapat berakhir pekan bersama, saling menelpon setiap tiga hari (atau bahkan setiap hari!), dan merayakan Natal atau acara lain bersama-sama. Mereka juga yakin pasangan muda itu akan tinggal di dekat mereka sehingga mereka tetap dapat menjenguk cucu-cucu mereka. Bahkan ada yang berharap memiliki sedikitnya empat orang cucu, dan cucu pertama harus lahir dalam dua tahun pertama!
  • Perbedaan kebiasaan / kultur. Apa yang terjadi jika yang seorang berasal dari keluarga yang hangat dan terbuka, sementara yang lain tidak? Orang yang berasal dari keluarga yang dingin dan tertutup mungkin tak mau membina hubungan akrab dengan keluarga mertuanya. Atau sebaliknya, orang yang hanya sedikit atau bahkan tidak pernah merasakan kehangatan dan keterbukaan dalam keluarganya mungkin merindukan hubungan yang akrab dengan calon keluarga mertuanya. Namun, orang yang berasal dari kluarga yang hangat mungkin tidak nyaman dengan keadaan keluarga calon mertua yang dingin dan ‘berjarak’!
  • Gaya hidup dan tujuan yang hendak dicapai pasangan itu maupun orangtua mereka. Orangtua yang makmur dan giat bekerja kerap kali sulit menahan diri untuk  tidak menekan pasangan itu karena stAndar hidup mereka yang berbeda. Dan masalahnya akan bertambah parah jika pasangan itu selalu mengkritik stAndar hidup orangtua mereka.
  • Masalah keturunan. Sebagian orangtua sangat ingin segera menimang cucu, lalu dengan cara mereka sendiri mendesak pasangan itu untuk ”segera menghasilkannya”...! Jika anak yang lahir ternyata tidak seperti yang diinginkan kakek-neneknya, mungkin jenis kelamin atau perilaku yang tidak sesuai, akan memunculkan konflik. Hal lain yang bisa memicu konflik adalah perlakuan kakek nenek terhadap cucu mereka. Kakek nenek biasanya sangat memanjakan cucunya, membuat para orangtua lebih sulit mendisiplin anak mereka bila anak itu kembali ke rumah.

 

Namun konflik dengan mertua bukanlah hal yang tidak dapat diselesaikan. Ingat: saat Anda menikah dengan pasangan Anda, Anda juga harus siap ‘menerima paket yang menyertainya’, dan salah satunya adalah orang tuanya, alias mertua Anda...!
Berikut ini ada beberapa langkah untuk meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan mertua

  • Miliki pandangan yang positif dan optimis dalam menjalin hubungan dengan mertua. Jangan terpengaruh dengan novel, sinetron, atau film fiksi tentang mertua (atau menantu) yang kejam. Ibu mertua tak selamanya menjadi sumber masalah, kerapkali mereka justru bisa menjadi berkat. Tidak semua suami istri tak bahagia hidup bersama atau tinggal dekat dengan mertua. Tidak benar pria lebih merasa terganggu oleh mertuanya dibandingkan wanita. Justru pada umumnya lebih banyak konflik terjadi antara menantu perempuan dengan ibu mertuanya. Mendiamkan masalah Anda dengan mertua bukanlah jalan keluar yang baik. Lebih baik menyelesaikan setiap perbedaan yang terjadi, dengan pikiran terbuka dan didasari dengan kasih yang tulus dan tanpa syarat.
  • Evaluasi dan pilihlah kebiasaan manakah dari keluarga orangtua yang Anda inginkan, dan juga kebiasaan baru yang ingin Anda coba menjadi bagian dari hidup Anda. Bicarakan hal ini dengan orangtua maupuan mertua Anda. Ingatlah, sebagai pasangan orang dewasa yang sudah menikah, Anda juga punya hak yang sama dengan orangtua atau mertua Anda untuk menentukan pilihan bagaimana, misalnya, merayakan Natal seperti yang mereka lakukan. Diskusikan, sekali lagi, dengan pikiran terbuka dan didasari dengan kasih yang tulus dan tanpa syarat.
  • Sadarilah berbagai kebutuhan orangtua Anda dan orangtua pasangan Anda saat ini.  Di balik perilaku tertentu, sebenarnya orang tua / mertua sedang berusaha memenuhi kebutuhan tertentu. Perilaku mereka mungkin tidak mencerminkan dengan jelas kebutuhan itu, sehingga kita menjadi bingung. Mungkin saran-saran mereka sebenarnya hanyalah refleksi dari kebutuhan mereka. Mereka mungkin tak sungguh-sungguh ingin mencampuri pernikahan Anda. Kebanyakan orangtua butuh untuk merasa berguna, dianggap penting, dan aman. Mereka masih butuh perhatian. Barangkali Anda hanya perlu berinisiatif melakukan hal-hal sederhana dan menunjukkan perhatian, untuk membuat mertua merasa bermakna dan dikasihi.
  • Tanggapilah nasehat mertua sebagaimana Anda menanggapi seorang teman. Jika nasehatnya baik, turutilah dan berterimakasihlah atas perhatiannya. Jika Anda merasa tidak cocok, tetaplah berterimakasih atas sarannya, dan lanjutkan rencana Anda sebagai yang terutama. Ketulusan dan ketegasan Anda sangat membantu. Mereka mungkin terus ‘mendesak’ agar nasehat mereka yang Anda terima dan lakukan, karena (mungkin) begitulah dulu mereka diperlakukan. Jika Anda tetap bersikap tegas dan konsisten dengan penuh kasih, mereka akan belajar untuk mengerti bahwa Anda berhak menolak atau menerima nasihat dan saran mereka, dan bahwa nasihat dan saran mertua bukanlah ‘hukum yang mutlak’.
  • Jangan berprasangka buruk terhadap calon mertua Anda. Jika mereka terlalu ikut campur, mungkin karena mereka sungguh-sungguh ingin memperhatikan kesejahteraan Anda. Mungkin mereka tidak ingin (selalu) mencampuri urusan Anda setiap waktu.
  • Carilah hal-hal positif pada keluarga calon mertua, jangan fokus pada kesalahan/kelemahannya.
  • Berilah kesempatan kepada mertua Anda untuk menyesuaikan diri dengan ‘keadaan baru’, yaitu anaknya sudah menikah dan sudah menjadi tanggung jawab dari pasangannya. Orang tua pasangan Anda sudah memiliki hubungan yang sangat erat dengan anaknya selama bertahun-tahun. Biarkan proses ‘perpisahan’ mereka terjadi secara berangsur-angsur, jangan dipaksa berubah secara mendadak/radikal.

Saat saya dan istri memberikan konseling pra-nikah, salah satu sesi yang kami wajibkan adalah pertemuan dengan orang tua kedua calon mempelai. Pada saat itulah kami banyak mempersiapkan para orang tua akan ‘peran baru’ mereka saat anak-anak mereka sudah dipersatukan, selain mempersiapkan calon mempelai itu sendiri bagaimana mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi sehubungan relasi dengan mertua.

  • Jika Anda ingin memberi nasihat kepada mertua, amatlah bijaksana bila Anda menunggu sampai mereka memintanya. Jika Anda menawarkan saran, ingatlah bahwa mereka pun berhak untuk menerima atau menolak. Bukankah Anda juga ingin diperlakukan demikian?
  • Jangan selalu membicarakan perselisihan atau kekurangan pasangan Anda dengan keluarga Anda terus menerus, karena itu dapat membuat mereka berpandangan negatif terhadap pasangan Anda, dan hal ini mempersulit tercapainya hubungan baik dengan semua pihak.
  • Jangan meniru keluarga Anda atau menjadikannya model untuk tunangan Anda. Mungkin ia akan merasa diserang dan akan berbalik menyerang dengan memakai model keluarganya, meskipun mungkin Anda benar. Jika Anda ingin mertua mengubah sesuatu, tanyakanlah pada pasangan Anda bagaimana perasaannya terhadap orangtuanya itu. Mungkin ia dapat menjelaskan perilaku orangtuanya dari sudut pandang yang mungkin tak terlihat oleh Anda. Ingatlah setiap keluarga memiliki keistimewaan dan keunikannya masing-masing.

Pergunakanlah kasih tanpa syarat, seperti Tuhan mengasihi kita meski saat kita masih berdosa, sebagai dasar dan motivasi Anda untuk membangun hubungan yang baik dengan mertua. Meski awalnya hubungan terasa kurang luwes, masih ada ‘jarak’, namun bila Anda terus berupaya dan terus merendahkan diri, tentunya disertai dengan doa, maka pasti Anda dapat membangun hubungan yang baik dengan mertua, dan menjadikannya salah satu sumber berkat bukan sumber masalah.

Himawan Hadirahardja
Referensi:

  • Mertuaku, Menantuku – Yohanis Trisfant, MTh
  • Before You Say ‘I do’ – H. Norman Wright & Wes Roberts
  • Wanita Kristen dalam Menghadapi Pergumulan Hidup – DR. Ruth F. Selan

Book Testimonial

  • Gregory W. Slayton penulis buku ini, menyadarkan bahwa ada profesi kita semua yang lebih mulia dan tidak kalah besar tanggung jawabnya. Saya dan Anda semua laki-laki yang sudah berkeluarga adalah sosok yang memiliki profesi sebagai Ayah. Ini profesi yang dilakukan seumur hidup kita dan sekaligus profesi yang telah Tuhan berikan kepada kita.

    Itulah sebabnya, ditengah-tengah kesibukan saya sebagai Gubernur Provinsi DKI Jakarta, saya selalu berkomitmen untuk menyediakan waktu bagi keluarga, istri dan anak - anak. Keberhasilan saya sebagai Gubernur, read more...

    Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta

  • Be a Better Dad Today, ditulis oleh pengarang yang memiliki banyak pengalaman dan profesi. Sebagai professor, tidak mengherankan bila bukunya sangat sistematis.Sepuluh Panduan Menjadi Ayah yang Hebat, adalah tulisan yang disusun dengan sangat baik, sistematis dan mudah dipahami.

    Sebagai mantan duta besar Amerika dan pelaku bisnis, Slayton memiliki pengalaman sangat luas.Pertemuannya dengan banyak orang, mengamati kesuksesan dan kegagalan seorang Ayah, membuat tulisan dalam buku ini sungguh kaya dan relevan untuk kita semua. read more...

    Juga Suhendro Hadiwidjojo, Ketua Umum PGTI

view more testimonial...